Data 5,2 Juta Tamu Jaringan Hotel Marriott Di Bobol

Data 5,2 Juta Tamu Jaringan Hotel Marriott Di Bobol

Jaringan hotel Marriott Internasional kembali mendapat pukulan dengan dicurinya data tamu-tamu hotel mereka di seluruh dunia. Imbas dari dicurinya data ini tidak hanya keamanan para tamu hotel yang terancam, namun juga tercorengnya nama besar Marriott di mata Internasional. Kejadian ini dapat dihindari seandainya perusahaan tidak mengabaikan pentingnya monitoring keamanan jaringan mereka secara terus menerus selama 24 jam. Perusahaan tidak perlu mengupayakan hal ini secara internal, karena jasa monitoring ini sudah tersedia.

Dalam dunia bisnis saat ini, data merupakan asset terpenting dan paling berharga bagi sebuah perusahaan. Terlebih perusahaan atau lembaga yang menjalin hubungan secara langsung ke masyarakat penggunanya. Disamping menjadi asset perusahaan, data pengguna tersebut juga menjadi kunci keamanan pengguna perusahaan tersebut. Dikatakan demikian karena data pengguna yang biasanya dimiliki oleh suatu perusahaan merupakan data yang sifatnya pribadi. Bila data tersebut jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang, maka keamanan fisik dan finansial pengguna tersebut akan terancam.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, jaringan hotel Marriott pada tanggal 31 Maret 2020 mengumumkan bahwa data customer mereka dicuri oleh hacker, seperti tertulis dalam laporan mereka. Sekitar 5,2 juta tamu jaringan hotel Marriott di seluruh dunia diminta untuk memeriksa di website yang disediakan, apakah data mereka ikut dalam data yang dicuri tersebut.

Pencurian data tersebut sudah banyak terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Apakah hal tersebut menandakan bahwa jaringan dengan nama besar Marriott tidak memiliki strategi pengamanan customer mereka? Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko pencurian data seperti itu? Mengingat bahwa kejadian ini merupakan kejadian ke dua bagi Marriott.

Banyak orang berpikir bahwa investasi di bidang perangkat security yang mahal-mahal sudah cukup menjamin keamanan data mereka. Mereka lupa bahwa dalam dalam dunia bisnis selalu ada 3 unsur yang mempengaruhi keberhasilan mereka, yaitu people, process, and tools. Dalam dunia security, unsur-unsur tersebut juga berpengaruh dalam keberhasilan pengamanan data perusahaan. Hal yang paling sering diabaikan adalah monitoring keamanan jaringan secara terus-menerus, dimana membutuhkan unsur people yang sangat besar. Unsur yang paling banyak menyita dana dan perhatian, unsur ini juga yang paling banyak dihindari karena bukan merupakan core business banyak perusahaan.

Hal yang sering dilupakan para pebisnis adalah memonitor pesan-pesan yang di keluarkan oleh perangkat-perangkat IT yang mereka miliki. Dengan memonitor pesan-pesan tersebut, seharusnya dapat terlihat aktifitas-aktifitas yang mencurigakan yang sedang berlangsung.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, EDGE menyediakan jasa monitoring keamanan jaringan secara 24 jam. Monitoring ini tidak akan merubah invenstasi yang telah dilakukan oleh perusahaan, karena kami akan menyatukan semua data keamanan dari perangkat-perangkat yang telah ada untuk diolah menjadi informasi status keamanan saat itu.  Tim EDGE akan berkoordinasi dengan tim IT setempat pada saat terjadi hal-hal yang dianggap berbahaya atau tidak normal. Dengan koordinasi ini, niscaya kejadian-kejadian seperti di atas dapat dihindari.