Masalah Keamanan Dan Informasi Data Pasien

Masalah Keamanan Dan Informasi Data Pasien

Masalah keamanan dan kerahasiaan informasi data pasien di era industri 4.0 tentunya sangat beragam dan kompleks, derasnya arus digital zaman sekarang membuat aktivitas kejahatan siber semakin bercabang ke berbagai hal. Maka, tentunya anda harus bisa meningkatkan keamanan data. 

Pada umumnya, informasi pasien memang harus menjadi data konfidensial baik dari pihak rumah sakit ataupun pihak yang dirawat, hal ini bertujuan agar terhindar dari penyalahgunaan data untuk keuntungan pribadi. Terlebih dengan maraknya kasus kematian akibat COVID-19 saat ini, seluruh data pasien harus diamankan oleh pemerintah dengan alasan untuk mencegah kepanikan publik dan penyalahgunaan informasi. Masalah keamanan dan informasi data pasien sudah harus menjadi perhatian bersama untuk melindungi para pasien yang ada di rumah sakit. 

Belakangan ini, kembali terdengar masalah peretasan di tengah-tengah pandemik COVID-19 yakni seluruh informasi kesehatan dari pasien yang dideteksi terinfeksi jaringan Coronavirus dicuri untuk dijual ke dark web. Berdasarkan lansiran dari Kompas, sudah hampir lebih dari 4,2 juta data pasien diperjualbelikan pada situs gelap yang pernah digunakan saat terjadinya kasus yang sama oleh e-commerce terbesar Indonesia. 

Pengamat siber dan keamanan informatika,  Alfons Tanujaya, memberikan tanggapan mengenai bobolnya data pasien COVID-19 dari rumah sakit bahwa memang betul adanya aktivitas cybercrime di bidang kesehatan, namun yang perlu digaris bawahi adalah oknum peretas mengambil data pasien dari institusi kesehatan yang bersertifikasi Negara, bukan Swasta. 

Peretas yang membobol sangat jahat karena menyerang individu 

Berdasarkan tanggapan dari Alfons, pihak peretas seringkali menyerang data rumah sakit untuk mencuri informasi pasien yang dirawat dengan menyerang individu yang bersangkutan. Lebih lanjut lagi, pendiri Vaksincom ini menuturkan bahwa dari segi privasi, penyebaran data riwayat kesehatan juga sangat berbahaya. Dalam hal ini, jika ada pihak yang berniat jahat, bisa memanfaatkan data-data bocor tersebut untuk mengeksploitasi kelemahan orang yang bersangkutan.

Ditambah, sang peretas untuk tingkat kepiawaiannya masih terbilang lebih rendah ketimbang peretas yang saat itu membobol data e-commerce terbesar di Indonesia pada tiga bulan lalu. Sehingga, bentuk eksploitasi data dari para pasien ini rata-rata bersifat personal.

Cara menghadapi pembobol dalam mengambil data pasien yang dirawat 

Mengingat masa pandemik ini masih berlangsung, ada beberapa cara yang wajib diikuti demi melindungi data pasien agar terhindar dari serangan jahat. Untuk mengantisipasinya, ada beberapa cara yang perlu dilakukan demi data pasien, apa saja caranya? 

  1. Tingkatkan infrastruktur keamanan 

Memang sudah menjadi hal umum bagi para institusi untuk melindungi seluruh data dan informasi. Infrastruktur keamanan memang wajib menjadi rangkaian pelindung serangan siber kedepannya nanti. Dikarenakan hal ini digunakan untuk meminimalisir bahaya peretasan kedepannya. Umumnya, infrastruktur yang dimaksud adalah pengelompokkan mitra yang menjadi barikade keamanan siber, salah satunya adalah Tim IT. 

  1. Selalu update jaringan setiap waktu 

Seperti yang sudah dikupas artikel sebelumnya, update merupakan hal yang penting dalam  membangun website yang lebih ideal dan terlindungi dari berbagai ancaman. Pastikan kembali setiap perangkat yang ada di dalamnya ditingkatkan performanya, umumnya perangkat lunak yang sudah usang seringkali menjadi sumber utama mudahnya diretas

  1. Bila memungkinkan, segera dikonsultasikan ke pihak jasa proteksi data 

Tidak ada salahnya bila anda memberikan keluhan kepada yang lebih ahli, mengingat derasnya arus digital yang semakin hari tidak bisa diprediksi. Segera beranikan diri untuk konsultasikan kepada jasa proteksi data, umumnya mereka lebih paham dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan keamanan. Anda bisa percayakan Edge-cyber juga untuk menangani isu keamanan terhadap jaringan data anda.